Eksistensi Allah dan Alam

شَتَّانَ بَيْنَ مَنْ يَسْتَدِلُّ بِهِ أَوْ يَسْتَدِلُّ عَلَيْهِ المُسْتَدِلُّ بِهِ عَرَفَ الحَقُّ لِأَهْلِهِ فَأَثْبَتَ الأَمْرَ مِنْ وُجُودِ أَصْلِهِ. وَالاسْتِدْلَالُ عَلَيْهِ مِنْ عَدَمِ الوُصُوْلِ إِلَيْهِ وَإِلَّا فَمَتَى غَابَ حَتَّى يَسْتَدِلَّ عَلَيْهِ وَ مَتَى بَعُدَ حَتَّى تَكُوْنَ الآثَارُ هِيَ الَّتِي تُوْصِلُ إِلَيْهِ.

“ Betapa jauh bedanya antara orang yang berdalil bahwa adanya Allah menunjukkan adanya alam, dengan orang yang berdalil bahwa adanya alam menunjukkan adanya Allah. Orang yang berdalil dengan adanya Allah menunjukan adanya alam itu mengerti betul bahwa kebenaran adalah bagi Sang Pemilik, sehingga ia menetapkan segala perkara dengan merujuk kepada asalnya (Allah). Sedangkan orang yang berdalil adanya alam menunjukkan adanya Allah adalah karena ia tidak sampai kepada-NYA. Kapankah Allah itu gaib, sehingga diperlukan bukti untuk mengetahui keberadaan-NYA? Dan bilakah Dia itu jauh, sehingga benda-benda alamlah yang mengantar kita kepada-NYA.”

Baca Juga:   KEUTAMAAN MEMBERI MAKAN ORANG PUASA

Asal kejadian manusia itu adalah tidak tahu apa-apa, kemudian Allah melengkapinya dengan segala jenis kebutuhan untuk mengenal-NYA. Semua ini bertujuan agar manusia bersyukur kepada-NYA. Sebab, hanya dengan bersyukur manusia mampu mengenal jati dirinya.

Allah Ta’ala berfirman :

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur (An-Nahl :78)



Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.