MEWASPADAI RIYA

 

“Ada kemungkinan masuknya riya’ dalam amalmu dari arah yang tiada orang yang melihat kepadamu.”

Syekh Fadhlala Haeri ra. mensyarah sbb:

Membiarkan ego membumbung tatkala orang memuji sangatlah nyata bahayanya. Salik yang tulus ikhlas bisa menangkal sanjungan orang lain dengan mengakui sifat-sifat hina yang nyata pada dirinya. Namun, penyakit hati dan bahaya yang lebih halus timbul bila harapan kita terhadap orang lain tidak terkabul dalam segala kesempatan dan situasi, bila kita tidak melihat-Nya ketika kita berhubungan dengan sesama.

Sedang Ustadz Salim Bahreisy ra memberikan syarah sbb:

Beramal di muka orang untuk dilihat orang itu riya’ yang terang jelas. Beramal sendirian, tidak ada orang yang mengetahui lalu ingin disanjung dihormat, bahkan jika ada kebutuhan agar lekas-lekas orang membantunya, atau bila membeli sesuatu supaya dimurahkan harganya, dan sekiranya ada orang yang kurang atau tidak hormat kepadanya, ia mengharap semoga terkena siksa atau balasan Allah, ini semua termasuk riya’ yang samar.

Baca Juga:   Memimpin dengan Hati

Rasulullah saw bersabda,“Syirik itu ada yang lebih samar dari jalannya semut hitam di atas batu hitam di malam hari.”

Dan riya’ termasuk syirik yang samar, yaitu beramal tidak karena Allah.

 

Nah Sahabat…

Sudah selayaknya kita harus berhati-hati ketika hendak beramal, jangan sampai kita terjebak oleh tipu daya hawanafsu, syahwat kita sendiri, ataupun setan yang gemar menggelincirkan niat dan tujuan amal kita.

Laa haula wa laa quwwata illa billahi al-‘Aliyy al-‘Adhim.

Wallahu a’lam bishshawwab.



Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.