Faktor Pengotor Hati

Rasulullah SAW bersabda :

“ Ketahuilah, bahwa di dalam tubuh ada sekerat daging. Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh itu baik; dan apabila sekerat daging itu rusak, maka seluruh tubuh itu pun rusak. Ketahuilah, dia itu adalah hati.” (HR. Bukhari Muslim)

Hati adalah penggerak, poros dan pusat segala ibadah kita. Semakin bersih hati seseorang maka akan semakin mudah ia yakin kepada Allah SWT. Dan dengan kebersihan hati akan membuat kita semakin dekat kepada Allah SWT. Hati yang bersih juga akan memudahkan kita untuk menuju kebaikan, seperti bersegera memenuhi panggilanNya untuk menunaikan sholat tatkala adzan berkumandang, memudahkan kita bangun malam untuk melaksanakan shalat tahajud, melaksanakan tadarus Al-Qur’an, dll.

Dan dua hal yang menjadi faktor utama pengotor hati adalah cinta dunia dan hawa nafsu. Ketika manusia sudah terkena cinta dunia maka ia seolah-olah akan beranggapan bahwa segala kenikmatan, kesuksesan, jabatan datangnya dari kekayaan. Ia lupa kepada Sang Maha Pemberi Rizqi, ia lupa akan Sang Maha Pemberi Keluasan, ia lupa bahwa Allah lah yang telah menciptakan dan memberikan kehidupan kepada dia selama ia hidup di dunia ini.

Kita sebagai manusia tidak sepatutnya memandang kepada hal-hal yang berbau duniawi dengan berlebihan. Karena tatkala kita memandang hal-hal yang berbau duniawi secara berlebihan, maka hanya kesombonganlah yang akan kita dapatkan. Dan orang yang sombong ia akan menolak sebuah kebenaran yang ada, kalau kebenaran itu datangnya dari pihak yang statusnya dia anggap lebih rendah dari dirinya.

Rasulullah SAW bersabda :

“ Takabur itu adalah menolak kebenaran dan melecehkan orang lain.” (HR. Muslim)

Orang yang sombong akan selalu menganggap dirinya benar, Meskipun ia berada di posisi yang salah. Dia tidak akan mau menerima kritikan maupun masukan dari orang lain. Dia akan menutup mata terhadap kelemahan dan kekurangan dirinya dan ia akan membuka telinganya hanya untuk sebuah pujian-pujian yang dilontarkan kepadanya.

Sebenarnya, apa yang dibanggakan oleh orang-orang sombong itu ? harta, ilmu, pangkat, keturunan ? bukankah semua itu dari Allah SWT ? dan semua hal itu pastilah akan kembali kepadaNya kelak. Lagi pula apabila ia orang yang kaya, punya harta banyak, kedudukan yang tinggi, tapi bukankah masih ada orang yang lebih kaya dan lebih mempunyai kedudukan yang tinggi daripadanya ?. Inilah sedikit realita dari cinta dunia, semua yang yang ada di depannya membuat ia buta akan nikmat yang tak pernah ia syukuri. Ia selalu merasa kuran, kurang dan selalu kurang. Ia lupa untuk mensyukuri semua nikmat yang telah Allah berikan, ia juga bahwa Allah lah yang telah memberikan ia kepalangan dan keluasan rezaki kepadanya.

Jika kita mempunyai gelar, harta, dan jabatan yang tinggi maka syukurilah semua hal itu. Amalkanlah segala ilmu yang kita punya, berbagilah harta kepada orang yang lebih membutuhkan, dan syukurilah semua nikmat yang telah engkau dapatkan. Karena tatkala kita mensyukuri akan apa yang telah Allah berika kepada kita Allah kan senantiasa menambah nikmat kepada kita.

Allah SWT berfirman di dalam surat Ibrahim ayat 7 :

Artinya :” Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

 

Kita tidak perlu pamer kepada orang-orang bahwa kita punya harta, jabatan dan gelar yang tinggi. Karena semua hal itu tidak akan membawa kita kepada kemaslahatan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Justru apabila kita pamer dengan segala kenikmatan yang kita miliki saat ini maka hal ini akan membuat orang lain silau terhadap diri kita, yang mungkin akan memberikan dampak yang buruk terhadap diri kita.

Baca Juga:   BAHAYA JABATAN DAN KETENARAN

Janganlah kita membebani diri kita dengan kesombongan dan perasaan minder karena urusan duniawi. Marilah kita mulai untuk senantiasa menyikapi dunia dengan biasa-biasa saja agar kebersihan hati kita selalu terjaga. Kita tidak perlu merasa tinggi hati ketika kita di jemput dengan mobil mewah atau bahkan kita merasa rendah hati tatkala kita di jemput dengan motor yang biasa-biasa saja, karena kendaraan kita yang terakhir kali yang akan kita gunakan hanyalah sebuah kereta keranda dan rumah yang tempati saat ini bukanlah segalanya karena pda akhirnya kita akan berakhir sama beratapkan tanah pekuburan. Sikapilah dunia ini dengan proporsional, sesuai kebutuhan, dan tanpa disisipi sifat kesombongan dan berlebihan. Dan jadikanlah Nabi Muhammad SAW sebagi uswah hasanah dalam kehidupan kita.

Hal kedua yang menjadi faktor pengotor hati kita adalah hawa nafsu. Allah SWT berfirman di dalam surat An-Naazi’at ayat 40-41 :

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).”

 

Di dalam ayat ini Allah telah memperingatkan kepada manusia agar ia tidak mengumbar hawa nafsunya. Dan salah satu hal yang sangat rentan mengotori hai kita adalah pandangan mata yang didorong oleh hawa nafsu. Memang menjadi fitrah manusia jika ada ketertarikan terhadap lawan jenis. Akan tetapi Islam memiliki aturan mulia yang mengatur interaksi antar sesama manusia berlainan jenis, termasuk dalam hal pandangan mata.

 

Dan pendengaran kita pun musti dipelihara dan di jaga dari hal-hal yang bisa merusak hati, dan salah satunya adalah lagu-lagu. Marilah kita pintar untuk memilah dan memilih mana yang terbaik buat kita. Bukankah lantunan ayat suci Al-Qur’an lebih baik ? dan akan mengingatkan kita kepadaNya ? tatkala kita sedang mencari hiburan dan ketenangan bukankah lebih baik jika kita mendengarkan Al-Qur’an ?. Karena Al-Qur’an akan mengajak kita untuk mengingatNya dan dengana mengingat Allah maka hati kita akan merasa tentram dan tenang.

 

Allah SWT berfirman di dalam surat Ar-Ra’d ayat 28 :

Artinya : “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”

 

Selain lagu-lagu, masih banyak hal yang bisa merusak hati melalui jendela pendengaran, diantaranya adalah omongan-omongan yang berisi keburukan orang, ghibah atau fitnah. Waspadalah terhadap dorongan hawa nafsu yang ingin dipuji dan dilihat oleh orang lain. Karena mudah saja bagi Allah SWT untuk membalikkan keadaan kita dari keadaan yang sangat jauh tak pernah kita perkirakan sebelumnya, bahkan bisa jadi membuat sebuah mala petaka. Oleh karena itu, jagalah hati kita agar selalu tetap bersih dari bercak-bercak noda.

Wallahu a’lam bish shawab…

 

 

 

 

 



Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.