URGENSI IKHLAS DALAM REALISASI AMAL

Perbuatan adalah bentuk implementasi dari keimaanan seseorang, maka tak heran jika amalan (perbuatan) bisa menjadi tolok ukur tinggi dan rendah, naik (yāzid) dan turun (yanqūs) keimanan seseorang. Sedangkan yang menjadi tolok ukur amalan itu sendiri adalah Iklhas. Maka ketika kita hendak mengerjakan suata amalan (perbuatan) hendaknya senantiasa kita landasi dengan rasa ikhlas, yaitu melakukan perbuatan semata-mata mencari keridhaan Allah swt dan memurnikan perbuatan dari segala bentuk kesenangan duniawi. Ikhlas juga merupakan dampak positif dari tauhid yang sejati, yaitu tindakan mengesakan Allah swt dalam peribadatan dan memohon pertolongan. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt dalam surat yang sering kita baca ketika shalat :

Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.(QS. Al-Fātihah : 5).

Dari firman Allah swt diatas dapat kita tarik sebuah pemahaman, bahwa ikhlas adalah suatau element yang urgen (penting) dalam melaksanakan segala amalan. Beramal tanpa ikhlas, ibarat melakukan pekerjaan yang tiada guna dan sia-sia belaka.

Selaku orang muslim, tentu sifat ikhlas ini harus benar-benar dimiliki dan menjadi satu komposisi dalam meracik ramuan amalan baik yang akan direalisasikan sebagai wujud keimanan kita kepada Allah swt. Jangan sampai dalam perjalananya semua amalan yang kita laksanakan sia-sia belaka seperti buih di lautan. Oleh karena itu Allah swt berfirman

Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”.(QS. al-An’am : 162-163)

Berdasarkan ayat di atas, tentu sebagai seorang muslim, kita harus memahami dan mampu mengaplikasikan semboyan : “Allah tujuan kita, Allah satu-satunya penolong kita dan hanya kepada Allah lah kita berserah diri” dalam segala perbuatan yang kita kerjakan.

Membersihkan dan memurnikan perbuatan dari segala macam kesenangan duniawi bukanlah persoalan ringan seperti diduga banyak orang. Perbuatan seperti ini memerlukan perjuangan sungguh-sungguh dengan mengalahkan sifat egois dan membabat habis segala kesenangan pribadi yang bersifat sementara. Selain itu, juga diperlukan pengawasan yang sangat ketat terhadap lubang yang bisa dimasuki oleh setan. Tapi bagi orang yang mampu mengkondisikan hatinya untuk tetap ikhlas dan tidak terpengaruh oleh bujuk-rayu setan dan gemerlap dunia yang fana, maka baginya kemudahan dan anugerah dari Allah. Hal ini dilukiskan oleh Rasulullah swt dalam sabdanya :

Baca Juga:   Selamat Kepada Bu Suparti dan Bapak Kholiq, Peroleh Motor Scoopy Arisan Berkah

“Dari Ubay bin Ka’ab berkata, Rasulullah saw bersabda : Berilah kabar gembira bagi umat ini, bahwa mereka akan diberikan kemudahan oleh Allah swt, diberikan kejayaan dalam agama, diteguhkan kekuasaannya di Negerinya ini, dan diberikan kemenangan. Siapa diantara mereka yang beramal dengan amalan akhirat tetapi didasari keinginan mendapatkan kemewahan duniawi, maka tidak ada baginya bagian di akhirat” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Baihaqi)

Hadis diatas memberikan pelajaran berharga bagi kita, agar tidak mendua dalam niat ketika mengerjakan amal perbuatan. Karena niat yang mendua (tidak fokus semata-mata karena dan hanya untuk Allah) dapat merusak esensi amal perbuatan yang kita kerjakan. Ibnu Athailah menegaskan bahwa amal perbuatan yang dilandasi dualisme niat tidak akan diterima oleh Allah, begitu juga hati yang mendua.

Mengenai urgensi niat dalam beramal dan kaitanya dengan watak (sifat) manusia yang menyertainya, Rasulullah saw membagai manusia ke dalam dua golongan, sebagaimana sabdanya :

Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw bersabda : “celaka orang yang diperbudak oleh dinar, diperbudak oleh dirham, dan diperbudak oleh perut, jika diberi, ia diam, dan jika diberi, ia marah dan menggerutu. Beruntunglah seorang hamba yang memegang tali kendali kudanya di jalan Allah, sementara rambutnya kusut dan kakinya berdebu. Jika dia ditugaskan menjaga benteng pertahanan, maka tugas itu dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, dan jika dia diberi tugas menyediakan minuman, tugas itu pun dilaksanakannya bila minta izin tidak diizinkan dan bila minta ditolong ia tidak ditolong (dibantu)”. (HR. Bukhari)

Secara garis besar, hadis ini menunjukkan adanya dua golongan manusia yang memiliki karakteristik berbeda, yaitu :

Pertama : golongan yang hidup hanya untuk memenuhi keinginan diri dan hawa nafsunya. Ia diperbudak oleh kemewahan dan kemegahan dunia yang fana ini. Sehingga dia akan merasa puas dan bangga, jika apa yang dilkakunya tercapai dan terpenuhi, sebaliknya jikan menemui kegagalan, dia sering mencela dan menggerutu.

Kedua : golongan manusia yang hidupnya hanya dipergunakan untuk membela kebenaran. Seluruh hidupnya disediakan untuk mengabdi, berjuang, berkorban tanpa memperdulikan hasilnya dan tanpa dilandasi keinginan mencari popularitas, melainkan hanya karena dan untuk Allah swt.

Setelah kita mengetahui urgensi (pentingnya) ikhlas dalam melakukan perbuatan. Marilah kita tanamkan mulai sekarang sifat ikhlas ini di dalam lubuk hati kita dan kita realisasikan dalam bentuk amal shaleh yang bermanfaat. Wallahu A’lam Bisshawab.



Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.