“SELAMAT IDUL FITRI 1434 H”
Oleh Direktur Utama, Bpk. H.M. Ridwan, S.Pd.

QS. Al Baqoroh 2197

“…Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” QS. Al Baqoroh 2: 197

Dalam hal bekal kehidupan, Alloh SWT telah memberikan petunjuk dalam ayat diatas, bahwa sebaik-baik bekal adalah taqwa. Namun adanya pemikiran bahwa pengertian mengenai modal kehidupan hanyalah fisik duniawi saja, merupakan pemikiran yang sifatnya sementara.

Allah SWT telah memberikan porsi yang ideal bagaimana mencari modal penghidupan dalam QS. Al Qashshash: 77
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi. Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Bulan Ramadhan merupakan madrasah yang sejatinya meluluskan pribadi-pribadi yang bertaqwa. Terutama bagi mereka yang pertama menyambut Ramadhan dengan senang dan bersemangat. Kedua menyempurnakan ibadah wajib dan sunah. Ketiga membaca Al-Qur’an. Keempat memperbanyak sedekah. Kelima melaksanakan I’tikaf. Derajat ketaqwaan merupakan ukuran penting dari keimanan.

Maka sudah sewajarnya apabila di penghujung Ramadhan kita dipertemukan dengan hari yang melambangkan persaudaraan, persatuan serta kerukunan dan persamaan, yang menjadi dasar tegaknya masyarakat Islam. Sehingga menjadilah satu kewajiban yang mutlak, bagi kaum Muslimin seluruh dunia, untuk memelihara persatuan, bersatu padu, duduk sama rendah berdiri sama tinggi, di bawah naungan kalimah tauhid yaitu Hari Raya Idul Fitri.

Sapaan kesyukuran pada hari raya Idul Fitri, telah dicontohkan oleh Rasululloh SAW, yaitu dengan mengucapkan

“Taqabbalallahu minaa wa minka, Waja’alana minal aidin wal faizin. Semoga Alloh menerima (puasa) kita dan menjadikan kita kembali (dalam keadaan suci) serta termasuk orang-orang yang mendapat kemenangan.

Memaknai arti kemenangan bagi kaum muslim di Hari Raya Idul Fitri ada beberapa, diantaranya:

1. Kembali ke fitrah
Fitrah yang pertama adalah ketika memerankan kewajiban penciptaan manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi, ada dua peranan penting yang diamanahkan dan dilaksanakan manusia sampai hari kiamat.
Pertama, memakmurkan bumi (al ‘imarah). Kedua, memelihara bumi dari upaya-upaya perusakan yang datang dari pihak manapun (ar ri’ayah).
Fitrah yang kedua adalah, bahwa manusia diciptakan oleh Allah SWT agar menyembah kepadanya. Kata menyembah sebagai terjemahan dari lafal ‘abida-ya’budu-‘ibadatun. Beribadah berarti menyadari dan mengaku bahwa manusia merupakan hamba Allah yang harus tunduk mengikuti kehendaknya, baik secara sukarela maupun terpaksa.
Jadi, setiap insan tujuan hidupnya adalah untuk mencari keridhaan Allah SWT, karena jiwa yang memperoleh keridhaan Allah adalah jiwa yang berbahagia, mendapat ketenangan, terjauhkan dari kegelisahan dan kesengsaraan bathin. Sedankan diakhirat kelak, kita akan memperoleh imbalan surga dan dimasukkan dalam kelompok hamba-hamba Allah SWT yang istimewa. Sebagaimana firman Allah SWT

yang artinya: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhainya. Maka masuklah dalam jamaah hamba-hambaku. Dan masuklah ke dalam surgaku.” (QS Al Fajr : 27-30)

Hati yang tenang, hati yang bersih adalah hati yang menerima nilai-nilai Qur’ani. Di bulan syawwal umat Islam akan kembali kepada fitrahnya, diampuni dosanya setelah sebulan penuh melakukan ibadah di bulan Ramadhan. Ini adalah modal ke-TAQWA-an untuk menyongsong masa depan meraih prestasi.

2. Bulan takbir
Menjelang 1 syawwal umat Islam di berbagai belahan dunia mengumandangkan takbir. Dalam QS. Al-Israa’ 17: 44 Alloh SWT berfirman:
“Langit yang tujuh dan bumi serta segala makhluk yang ada padanya, selalu bertasbih untuk Alloh; dan tidak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji; akan tetapi kamu tidak mengerti akan tasbih mereka. Sesungguhnya Alloh Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”
Maka dari itu, Gemuruh takbir dan tahmid yang menggelora dari hamba-hamba-Nya yang setia terhadap Agama-Nya merupakan keutamaan. Dalam QS. Thaha: 124 Alloh SWT berfirman:

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku (Syariat-ku), maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.
Oleh karena itu dengan mengagungkan syariat Alloh SWT akan membawa kemanfaatan bagi kehidupan manusia dan Rahmat bagi semesta alam.

3. Bulan silaturahmi
Rasululloh Muhammad SAW menggambarkan hubungan sesama muslim dengan muslim yang lainnya dalam (HR. Bukhari dan Muslim). “Orang mukmin dengan orang mukmin itu ibarat sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lainnya.”

Maupun dalam QS. Ash shof: 4

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang kokoh.”

Ukhuwah Islamiyah yang murni, yang terbina dalam persatuan lahir batin, persatuan sejati yang kokoh sebagaimana bangunan yang utuh. Bukan persatuan seperti nasi, yang terlihat berkumpul dalam satu wadah bakul ataupun piring namun mudah sekali terpisah-pisah oleh alat makan dan sebagainya. Bukan pula seperti kondisi persatuan kaum munafik dalam firman Alloh SWT QS. Hasyr: 14
“Kamu mengira bahwa mereka itu berkumpul (menjadi satu), padahal hati mereka bercerai-berai.” Unsur perekat yang paling utama salah satunya adalah silaturahim.

Silaturahim merupakan salah satu kewajiban bagi setiap pribadi Muslim. Dalam Alquran, Allah SWT menegaskan dalam QS. An-Nisa 4 : 1, “Dan bertakwalah kepada Allah yang kalian saling meminta dengan nama-Nya dan sambunglah tali silaturahim” (QS. An-Nisa [4]:1).

Baca Juga:   Ngaji Bareng Komunitas Ummida, Kupas Gizi Seimbang Untuk Tumbuh Kembang Buah Hati

Ayat di atas menunjukkan arti penting akan kewajiban silaturahim. Sebab dengan melaksanakannya terdapat banyak keutamaan dan keistimewaan ataupun bagi yang memutuskannya tercapat ancaman dan dampaknya.
Diantara keutamaan yang akan diraih oleh orang yang selalu melakukan silahturahmi :
Pertama, akan diluaskan rizkinya. Rosulullah saw bersabda, “ Barang siapa yang suka diluaskan rizki dan
dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari, Muslim dan
Abu Dawud).
Kedua, akan diperpanjang umurnya.
Ketiga, akan selalu berhubungan dengan Allah swt. Dari ‘Aisyah ra berkata, Rosulullah saw bersabda,
“Silaturahmi itu tergantung di `Arsy (Singgasana Allah) seraya berkata: “Barangsiapa yang
menyambungku maka Allah akan menyambung hubungan dengannya, dan barangsiapa yang
memutuskanku maka Allah akan memutuskan hubungan dengannya” (HR. Bukhari dan Muslim).
Keempat, akan dimasukan kedalam golongan yang beriman kepada Allah dan hari akherat. Dari Abu Hurairah ra
sesunguhnya Rosulullah saw bersabda, Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akherat maka
lakukanlah silaturahmi (HR. Bukhari dan Muslim).

Sedangkan ancaman dan akibat yang akan didapat oleh orang yang memutus hubungan silaturahmi sbb :
Pertama, akan terputus hubungannya dengan Allah swt.
Rosulullah saw bersabda, “…dan barangsiapa yang memutuskanku maka Allah akan memutuskan
hubungan dengannya” (HR. Bukhari, dan Muslim).
Kedua, tidak termasuk golongan yang beriman kepada Allah swt dan hari akherat.
Ketiga, akan sempit rizkinya.
Keempat, akan pendek umurnya.
Kelima, akan dilaknat oleh Allah dan dimasukan kedalam neraka jahanam. (QS.13:25 & 47:22,23)
Keenam, tidak masuk surga. Dari Abu Muhammad Jubair bin Mut’im ra sesungguhnya Rosulullah saw bersabda,
“Tidak akan masuk surga orang yang memutus hubungan silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Itulah beberapa keutamaan bagi orang yang melakukan silaturahmi dan ancaman bagi orang yang meninggalkannya.

4. Bagaikan puasa setahun penuh
Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun.” (HR. Muslim).
Filosofi pahala puasa 6 hari di bulan Syawal setelah puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan sama dengan puasa setahun, karena setiap hasanah (kebaikan) diganjar sepuluh kali lipatnya.
Membiasakan puasa setelah Ramadhan memiliki banyak manfaat, di antaranya:
Pertama, puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan, merupakan pelengkap dan penyempurna pahala dari puasa setahun penuh.
Kedua, puasa Syawal dan Sya’ban bagaikan shalat sunnah rawatib, berfungsi sebagai penyempurna dari kekurangan, karena pada hari Kiamat nanti perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan (dilengkapi) dengan perbuatan-perbuatan sunnah. Sebagaimana keterangan yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di berbagai riwayat. Mayoritas puasa fardhu yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan ketidaksempurnaan, maka hal itu membutuhkan sesuatu yang menutupi dan menyempurnakannya.
Ketiga, membiasakan puasa setelah Ramadhan menandakan diterimanya puasa Ramadhan, karena apabila Allah Taala menerima amal seorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya. Sebagian orang bijak mengatakan: “Pahala amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya.” Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan suatu kebaikan lalu diikuti dengan yang buruk maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.
Keempat, puasa Ramadhan – sebagaimana disebutkan di muka – dapat mendatangkan maghfirah atas dosa-dosa masa lain. Orang yang berpuasa Ramadhan akan mendapatkan pahalanya pada hari Raya ‘ldul Fitri yang merupakan hari pembagian hadiah, maka membiasakan puasa setelah ‘Idul Fitri merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat ini. Dan sungguh tak ada nikmat yang lebih agung dari pengampunan dosa-dosa.
Kelima, dan di antara manfaat puasa enam hari bulan Syawal adalah amal-amal yang dikerjakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya pada bulan Ramadhan tidak terputus dengan berlalunya bulan mulia ini, selama ia masih hidup.
Sebaiknya orang yang memiliki utang puasa Ramadhan memulai membayarnya di bulan Syawal, karena hal itu mempercepat proses pembebasan dirinya dari tanggungan utangnya. Kemudian dilanjutkan dengan enam hari puasa Syawal, dengan demikian ia telah melakukan puasa Ramadhan dan mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal.

5. Bulan peningkatan
Secara harfiah Syawal adalah “Peningkatan” yaitu peningkatan ibadah setelah bulan Ramadhan. Karena umat Islam justru diharapkan mampu untuk meningkatkan amal kebaikannya pada bulan ini.
BMT Fastabiq dengan semangat yang fitri mengajak muslim pada khususnya dan seluruh lapisan umat secara umum:
Pertama, BMT FASTABIQ meningkatkan silaturahim dengan menambah kantor pelayanan, PATI, KUDUS, JEPARA, DEMAK, dan BLORA. Insya alloh SEMARANG lanjut ke barat dan pantura Jawa
Kedua, Mengajak masyarakat untuk semakin hidup sehat jasmani dan sehat rohani serta mempersiapkan menghadap Alloh dengan Husnul Khotimah. FASTABIQ SEHAT PKU Muhammadiyah Pati dan layanan awal KLINIK Pratama dan layanan Husnul Khotimah
Ketiga, Mengajak masyarakat untuk meningkatkan kualitas PENDIDIKAN sehingga mampu mencetak putra bangsa yang sholeh, taqwa dan berakhlaq mulia sejak dini dengan PAUD Fastabiq Ceria.
Oleh karena itu BMT Fastabiq memohon do’a restu semoga asa dan cita mulia ini berbuah ketaqwaan dan keberkahan. Aamiin, aamiin, aamiin.



Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.