Indonesia akan segera memasuki komunitas terintegrasi ASEAN Economic Community atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), yang merupakan bentuk realisasi dan tujuan akhir integrasi ekonomi negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

Dalam rangka ini, Muhammadiyah sebagai salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia berharap masyarakat tidak hanya menjadi penonton dan obyek pasar, namun harus berperan sebagai subyek penentu dan pelaku pasar di Kawasan ASEAN.

Dalam menyongsong MEA dan kemandirian ekonomi organisasi Muhammadiyah, Majelis Ekonomi Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar Temu Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM) di Hotel Golden Palace, Jl. Yos Sudarso 24 Surabaya pada Jumat sampai Minggu, 11 sampai 13 Desember 2015.

Kegiatan ini merupakan implementasi dari muktamar ke-47 di Makasar 2015, yang di antaranya Muhammadiyah mencanangkan bidang ekonomi sebagai pilar ketiga gerakan dakwahnya, selain pilar pendidikan dan pilar kesehatan yang selama ini sudah banyak dikembangkan Muhammadiyah dengan pendirian sekolah/ perguruan tinggi dan rumah sakit/ klinik kesehatan.

Pencanangan ini bermakna bahwa pengembangan ekonomi persyarikatan dan warga persyarikatan menjadi bidang dakwah utama yang dianggap strategis sebagaimana dua bidang lainya, yakni pendidikan dan kesehatan.

Pencanangan bidang ekonomi sebagai pilar ketiga sekaligus menandai ciri Islam berkemajuan yang menjadi spirit gerakan dakwah muhammdiyah. Dalam Temu Jaringan Saudagar Muhammadiyah ini diharapkan menjadi tonggak bangkitnya ekonomi Muhammadiyah, yang di antaranya akan dicanangkan penciptaan satu juta pengusaha baru di kalangan Muhammadiyah dalam lima tahun ke depan.

Ketua Majelis Ekonomi Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang juga pengusaha sukses di bidang perikanan asal Surabaya Mohammad Nadjikh, perhatian Muhammadiyah terhadap bidang ekonomi sangat relevan dengan persoalan kekinian umat Islam khususnya dan rakyat Indonesia umumnya.

Disparitas kekayaan dan kesejahteraan antara kelompok masyarakat sudah di luar kewajaran. Umat Islam yang mencapai 85% dari sekitar 250 juta penduduk Indonesia hanya mengendalikan sekitar 20% kekayaan Indonesia.

Pengusaha-pengusaha muslim jumlahnya masih sangat sedikit. Situasi demikian berdampak pada melemahnya posisi tawar umat Islam di bidang-bidang lainnya. Disparitas yang tajam juga mengakibatkan pertumbuhan ekonomi tidak punya manfaat yang siginifikan dalam meningkatkan derajat kesejahteraan penduduk.

“Untuk itu, kita akan membuat gerakan ciptakan satu juta pengusaha baru Muhammadiyah di semua bidang usaha di seluruh Indonesia,” jelas M. Nadjikh dalam siaran pers, Minggu (13/12/2015).

Indonesia akan maju jika 2% masyarakatnya menjadi pengusaha. Idealnya, Indonesia memiliki 4,4 juta pengusaha dari jumlah angkatan kerja produktif. Sementara saat ini, Indonesia hanya memiliki 400 ribu pengusaha dan sisanya adalah pekerja/ buruh kerja.

Kondisi ini sangat tidak memungkinkan ekonomi Indonesia akan bisa cepat maju menyamai negara-negara maju.

“Untuk itu kita akan berusaha mendorong kader Muhammadiyah, siswa dan mahasiswa di sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah untuk menjadi pengusaha baru di kemudian hari,” jelas M Nadjikh.

Baca Juga:   Tiga Tantangan Umat Versi Ketua Umum Muhammadiyah

Semangat ini sejalan dengan pendirian dan perkembangan Muhammadiyah yang banyak dipelopori oleh perpaduan kiprah para saudagar/pengusaha yang juga merupakan para pendakwah/dai.

Selain mengajarkan tentang agama, para aktivis Muhammadiyah juga mengembangkan usaha dan bisnis sehingga ketahanan akidah akan diimbangi dengan ketahanan ekonomi dan kesejahteraan.

Itu juga yang dilakukan pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan, yang selain guru mengaji di lingkungan Keraton Yoyakarta, beliau adalah seorang pengusaha batik. Ini juga sejalan dengan Nabi Muhammad SAW yang juga pengusaha sukses di Zajirah Arab saat itu.

Indonesia saat ini, 40% penduduk masih hidup di bawah garis kemiskinan, miskin dan hampir miskin. Akibatnya fundamental ekonomi Indonesia rapuh dan tidak tahan (tidak mandiri) terhadap gejolak ekonomi global.

Muhammadiyah sebagai institusi, gerakan dan komunitas memiliki potensi yang besar untuk mengangkat derajat ekonomi umat agar setara dan bahkan terampil sebagai Khoiru Ummah di bidang ekonomi. Pada peran inilah terletak urgensi pengembangan bidang ekonomi sebagai pilar ketiga dakwah Persyarikatan.

Upaya mengembangkan potensi ekonomi yang dimaksud tentu membutuhkan dukungan, kerjasama dan sinergi dari pelaku usaha atau saudagar dan profesional di bidang sains dan ekonomi.

Kehadiran dan peran mereka sangat dibutuhkan untuk membangun enterpreneurship culture warga Muhammadiyah, mengembangkan amal usaha baru di bidang perdagangan, agroindustri, jasa dan bisnis-bisnis lainnya bagi Muhammadiyah.

Dukungan, kerja sama dan sinergi yang kuat para saudagar akan mengantarkan Muhammadiyah dan para saudagarnya tampil sebagai kekuatan baru ekonomi Indonesia lima tahun ke depan. Untuk mencapai hal besar itu perlu diambil suatu langkah awal, yaitu pembentukan jejaring saudagar yang akan saling bersinergi membangun ekonomi Muhammadiyah dan warganya. Langkah awal ini akan diwujudkan dengan menyelenggarakan “Temu Jaringan Saudagar Muhammadiyah.”

Acara ini dihadiri oleh 300 pengusaha Muhammadiyah dari seluruh Indonesia, pengurus PP Muhammadiyah, seluruh Dekan Fakultas Ekonomi Perguruan Tinggi Muhammadiyah, mitra dan pengusaha Muhammadiyah di luar negeri, serta pengelola amal usaha bidang ekonomi Muhammadiyah seperti koperasi, Baitul Tanwil Muhammadiyah, industri, perbankan, perusahaan infrastruktur, perikanan, perkebunan, pertambangan dan lainnya.

Beberapa tokoh hadir di antaranya adalah Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, pengusaha nasional Sutrisno Bachir, CEO Trans Corp Chairul Tanjung, Soedomo Sudarnoto (CEO Kopi Kapal Api), Nurhayati Subakat (CEO dan pendiri Kosmetik Wardah), Mohammad Nadjikh (CEO dan pemilik KML Group (Kelola Mina Laut), Din Syamsuddin (mantan Ketua PP Muhammadiyah), Haedar Nasir (Ketua PP Muhammadiyah), Gubernur Jatim Soekarwo, H. Riyanto (Pemilik Hotel Sofyan Syariah, pengusaha minyak dan gas Muhdi PR dan lainnya. (Detik.com)



1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.