Menyelami Berjuta Nikmat Allah

 

Teramat mudah untuk mengenali nikmat Allah SWT, nikmat yang tak mungkin bisa dihinggakan jika kita ingin mencoba untuk menghitungnya. Namun, kesadaran kita untuk mensyukuri semua nikmat itu belum tentu bisa tumbuh di dalam hati dan pikiran kita. Terkadang kita manusia masih lalai dengan semua nikmat yang Allah berikan kepada kita. Kita lalai untuk mensyukuri semua nikmat itu, hingga kita kadang tak sadar sudah seberapa besar perasaan syukur kita telah mewarnai detik demi detik dan tiap helaan nafas kita.

Rasulullah SAW telah mencontohkan kepada umatnya untuk senantiasa membaca doa syukur setiap bangun tidur. Lafadz doa tersebut menuntun kita untuk bersyukur kepada Allah yang telah membangunkan kita dari alam tidur. Di dalam doa itu pula ditunjukkan kesadaran bahwa hanya kepada-Nyalah jiwa dan nyawa ini akan dikembalikan. Tidur dan bangun adalah sebuah kejadian rutin di dalam kehidupan kita umat manusia, sebagaimana makan, minum, berpakaian, mandi, berkendaraan, bekerja, bahkan membuang hajat sekalipun. Dan ternyata dari hal yang sederhana sekalipun, di balik keberlangsungan kehidupan ini terdapat suatu karunia Yang Maha dahsyat dan Maha Tak Terhingga.

Di mulai dari helaan napas, sekadar untuk menjelaskan mekanisme kerja sama organ-organ tubuh yang terlibat dalam sistem pernafasa, bagaimana jantung, paru-paru, pembuluh darah, sistem saraf, otak dll dapat saling berkoordinasi setiap saat bekerja tanpa ada yang memerintahkan. Menghitung berapa sel yang menyusun satu bagian tubuh kita pun tidak akan sanggup. Padahal, ribuan sel itu bekerja dengan sangat spesifik sehingga tubuh ini dapat menjalankan seluruh aktivitas dengan baik. Sadarkah kita siapa yang mengatur setiap aktivitas mikro dalam tubuh ini? Apakah organ otak kita yang memiliki otoritas tersebut ? siapa yang mampu memastikan jantung tetap bekerja untuk memompakan oksigen ke seluruh tubuh termasuk kepada koordinator tubuh ( otak ) tersebut ?

Kemajuan ilmu pengetahuan kedokteran yang terkini sekalipun tidak akan pernah mampu menunda ajal seseorang. Bahkan, untuk sekedar menjawab sebab datangnya ajal seorang pun seringkali tidak selalu tepat. Allah telah berfirman bahwa Dia telah menundukkan langit, Bumi, dan seisinya untuk memenuhi keperluan hidup umat manusia.

“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” ( QS. Luqman : 20 )

Sungguh Allah SWT adalh Maha Pemurah yang telah memberikan kesempatan bagi manusia untuk merasakan hidup di dunia dengan segala faktor pendukung yang lengkap dan sempurna. Organ tubuh yang sangat kompleks, daya dukung bumi yang begitu sempurna dengan oksigen, air, sinar matahari, suhu udara, kelembapan, angin dll yang segala keseluruhannya membuat manusia dan makhluk ciptaanNya dapat dengan nyaman meneruskan kelangsungan hidupnya. Allah SWT berfirman :

Baca Juga:   Pak Erie Sudewo Founder Dompet Dhuafa Republika Silaturohim Ke BMT Fastabiq

“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.”(QS. Al-Baqarah : 22)

Perlu ditanamkan di hati kita, bahwa seluruh kenikmatan itu telah Allah berikan dengan cuma-cuma. Maha Sempurna Kemurahan Allah SWT yang menciptakan segalanya dengan kelengkapan dan syari’atNya yang indah. Oleh-Nya setiap jiwa manusia dikaruniakan sebuah kalbu yang menjadikannya mampu untuk merasakan dan memikirkan hakikat penciptaan-Nya. Bahwa manusia diciptakan Allah dengan sebuah misi yang begitu mulia sehingga manusia disebutkan-Nya sebagai ciptaan yang paling sempurna dibandingkan tumbuhan, hewan dan ciptaan-Nya yang lainnya.

Agar manusia tetap menjadi hamba yang mulia maka Allah menganugerahkan kepada kita Dienul Islam dilengkapi dengan al-qur’an dan hadits sebagai tuntunan yang akan menyelamatkan kehidupan di dunia dan di akhirat. Di dalamnya diterangkan bahwa hidup adalah sebuah amanah yang akan dipertanggungjawabkan maka seluruh nikmat yang dirasakan kelak pasti kan dipertanyakan. Pada hakikatnya kehidupan adalah ujian, di balik seluruh kenikmatan terdapat sebuah ujian. Begitu pula sebaliknya, setiap kesulitan pastilah tetap ada kenikmatan yang apabila disyukuri akan menjadi sebuah kekuatan dan tentunya akan mengangkat derajat keimanan.

Senantiasa bersyukur, niscaya kelapangan hidup akan ditemui dan kesempitan yang dirasakan akan segera beranjak pergi. Namun, bila lalai untuk mensyukurinya, kesempitan hidup akan menjadi sebuah keniscayaan yang senantiasa dihadapi. Saat kesempitan menghimpit, saatnya kita kembali merenungi nikmat-nikmat Allah . Dengan mensyukuri apa pun nikmat yang telah kita terima, Insya Allah akan ada begitu banyak keindahan yang akan kita temukan sehingga kesulitan yang kan dihadapi terasa mudah untuk dilalui.

Belajar untuk bersyukur, belajar untuk memaknai setiap hal sekecil apapun dengan menghadirkan Allah dalam setiap detik kehidupan merupakan salah satu usaha untuk menjadi hamba-hambaNya yang selamat. Semoga Allah memberikan kemampuan untuk senantiasa bersyukur dengan cara yang terindah dengan menjadikan kita selalu bersikap amanah serta istiqomah dalam ketaatan dan ketakwaan.

 

Wallahu a’lam bish shawab…



Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.