Memperturutkan Hawa Nafsu

أَصْلُ كُلُّ مَعْصِيَةٍ وَغَفْلَةٍ وَشَهْوَةِ الرِضَا عَنِ النَّفْسِ، أَصْلُ كُلِّ طَاعَةٍ وَيَقْظَةٍ وَعِفَّةٍ عَدَمُ الرِّضَا مِنْكَ عَنْهَا.

“Pangkal segala maksiat, kelalaian dan syahwat adalah ridho terhadap nafsu. Dan pangkal dari segala ketaatan, kewaspadaan dan kesucian adalah engkau tidak ridho terhadap hawa nafsu”.

وَلْأَنْ تَصْحَبَ جَاهِلًا لَا يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تَصْحَبَ عَالِمًا يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ فَأَيُّ عِلْمٍ لِعَالَمٍ يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ وَأَيُّ جَهْلٍ لِجَاهِلٍ لَا يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ.

“Bersahabat dengan orang jahil yang tidak memperturutkan hawa nafsunya lebih baik bagimu daripada bersahabat dengan orang alim yang tunduk pada hawa nafsunya. Ilmu macam apa yang disandang si alim yang tunduk pada hawa nafsunya itu? Sebaliknya, kejahilan apalagi yang dapat disandangkan pada orang jahil yang tidak memperturutkan hawa nafsunya?

Baca Juga:   Pemimpin Adil vs Pemimpin zalim

Dalam hikmah ini, disebutkan, bahwa seseorang disebut jahil manakala ia tidak mampu untuk menundukkan bisikan syahwatnya kea rah yang diridhai oleh Allah. Terlebih apabila bisikan tersebut membawanya ke dalam kubangan nafsu yang tidak terkendali.

Disamping itu, Syaikh juga berpesan, agar kita senantiasa selektif di dalam memilih teman keseharian. Utamakan berteman dengan orang yang menjaga akhlak terhadap sesama, dan juga berakhlak kepada Allah Ta’ala.



Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.