rumah surgaKita sekarang hidup di zaman materialisme yang sangat mengerikan.Semua standar kehidupan didasarkan pada materi yang dimiliki dan dikuasai.Semua sisi kehidupan kita telah dijangkiti virus materialisme yang mematikan itu.Bahkan virus materialisme telah pula menggerogoti kehidupan beragama kita.Hampir sulit kita temukan aktivitas keagamaan, seperti ibadah, dakwah, sosial, pendidikan, politik dan sebagainya yang tidak digerogoti oleh materialisme.Inti semua itu adalah bergesernya standar nilai dan kemuliaan dari keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia, kepada materi dan status sosial.Padahal yang pailing mulia di sisi Allah adalah orang yang paling baik kualitas taqwanya. Allah berfirman :
أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“ Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah ciptakan kamu dari lalki-laki dan wanita dan Kami jadikan kamu berbangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling baik kualitas taqwamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Menguasai” (Al-Hujurat : 13)
Materialisme ini telah melahirkan dampak negatif dalam banyak kehidupan kita, seperti, perlombaan hidup dan usaha yang tidak sehat, termasuk dalam keluarga sehingga isteri tidak percaya dan hormat lagi pada suami, anak kepada orang tua, putus hubungan atara saudara dan karib kerabat. Yang lebih dahsyat lagi, materialisme telah mendorong tindakan kejahatan ekonomi seperti, korupsi, monopli, kecurangan dalam timbangan, ukuran, kualitas dan sebagainya.
Sebagaimana materialisme juga melahirkan sifat membabi buta dalam mencari kebutuhan hidup dan sarana kehidupan sehingga tidak peduli halal atau haram, berfoya-foya dalam menikmati kehidupan dunia, mubadzir, tidak jujur dalam bekerja dan berbisnis, egois, rakus terhadap harta, pelit, tidak mau peduli terhadap nasib kaum fakir dan miskin, sombong, angkuh dan bahkan sampai ke tingkat mempertuhankan harta benda. Sebab itu, tak heran jika materialisme ini telah pula melupakan kita dari kehidupan akhirat yang merupakan tempat kembali dan tempat tinggal kita yang hakiki lagi abadi.
Materialisme adalah penyakit yang tersembunyi dalam diri kita sendiri.Sumbernya adalah syahwat (keinginan-keinginan bersifat duniawi).Ia akan tumbuh subur dan bahkan dapat mengendalikan diri kita jika kita tidak mampu memenej dan mengendalikan syahwat tersebut. Memang, terkadang pemicunya bisa saja faktor luar seperti lingkungan keluarga atau life syle (gaya hidup) materialisme dan konsumtif yang berkembang dalam masyarakat.
Pada umunya ada tiga macam syahwat dunia yang tertanam dalam diri kita yang harus selalu diwasapadai dan dikendalikan, yakni syahwat wanita, anak dan harta benda. Allah menjelaskan dalam firmanNya :
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآَبِ
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang lebih baik (syurga).” (Ali Imran : 14)
Dari ayat tersebut dapat kita pahami bahwa bila ketiga syahwat tersebut telah menjadi tujuan hidup kita sehingga melupakan pada balasan Allah di akhirat, maka ingatlah, saat itu berarti kita sudah dikuasasi dan dikendalikan olehnya.Awalnya memang bisa hanya sekedar kesenangan dan kecintaan biasa sebagai manusia.Namun, lama-kelamaan bisa berubah menjadi orientasi hidup duniawi semata, dan kemudian dengan tidak disadari bisa meningkat dan berubah menjadi tuhan yang disembah dan ditaati.
Saat ini, tidak sedikit kita lihat orang-orang yang menjadikan wanita, anak-anak dan harta menjadi tuhan.
Bagi orang-orang seperti ini, mereka tidak akan pernah mau peduli halal atau haram. Yang penting mereka meraih apa yang mereka inginkan dari wanita, anak dan harta. Wanita, anak-anak dan harta telah melalaikan mereka dari mengingat Allah.Wanita, anak-anak dan harta telah memalingkan mereka dari jalan hidup yang Allah ciptakan untuk mereka. Dengan tanpa disadari, mereka membangkang kepada Allah, kepada Rasulullah dan kepada ajaran Islam yang Allah turunkan dan Rasulullah ajarkan untuk menyelamatkan kehidupan mereka di dunia dan sekaligus di akhirat kelak.
Agar hidup kita di dunia yang sementara ini tidak menjadi hamba syahwat dan kesenangan dunia, pada ayat berikutnya Allah menawarkan kepada kita sebuah kehidupan dan balasan akhirat yang jauh lebih baik dan lebih dahsyat dari apa saja yang mungkin kita peroleh di dunia ini, seperti firman-Nya :
قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَلِكُمْ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ
Katakanlah: “maukah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?.” Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya.Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.
Sebuah fakta yang tak terbantahkan yang selalu kita saksikan bahwa setiap manusia pasti mati. Saat kematian tiba, tak ada lagi manfaat harta, anak, isteri, teman, handai tolan, pangkat, jabatan, karir dan apa saja yang kita miliki di dunia ini. Semuanya akan kita tinggalkan. Rumah mewah tidak lagi berguna.
Kita akan diusung ke sebuah rumah dalam tanah yang luasnya hanya 1 x 1.5 m2 saja. Harta yang melimpah tidak lagi dapat kita nikmati.Saat kematian, kita hanya dibekali dengan beberapa lembar kain kafan yang menutupi tubuh kita. Pangkat dan kedudukan yang tinggi tidak lagi berguna, karena kita sudah kaku, tidak bisa lagi bergerak dan berbicara, serta kantor dan tempat bermain kita dibatasi sebuah tempat sempit yang bernama liang lahat di dalam bumi sana. Isteri, anak dan keluarga yang kita cintai tidak bisa berbuat apa-apa saat jasad kita ditimbun dengan tanah yang perlahan-lahan menghilang dari pandangan mereka.Mereka terpaksa meninggalkan kita sendirian di dalam kubur setelah pemakaman selesai.Tidak ada seorang isteri, atau anak, atau keluarga, teman, anak buah dan sebagainya yang mau mendampingi kita dengan setia setelah kita dikubur.
Salah satu bukti kita tidak tertipu oleh kesenangan dan syahwat dunia ialah kita tidak terlena dalam kehidupan dunia ini. Pada waktu yang sama, kita dapat memfokuskan hidup kita di dunia ini untuk mencapai kehidupan akhirat. Kita optimalkan semua potensi yang ada pada kita, khususnya jiwa, raga, isteri, anak, harta dan waktu kita untuk membangun rumah abadi kita di syurga; bukan rumah di dunia yang fana dan yang kita diami hanya sementara.Karena istana dan rumah syurga sangat jauh perbedaanya dengan istana dan rumah di dunia.
Sebagaimana membangun rumah di dunia yang tak seberapa memerlukan kerja dan perhatian, maka membangun rumah di syurga memerlukan kerja lebih keras lagi. Banyak cara dan strategi yang dapat kita lakukan untuk membangun rumah dan istana di syurga. Di antaranya ialah :
1. Iman dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa, seperti yang Allah firmankan dalam surat As-Shaf (61) ayat 10 – 12 :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ () تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ () يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ()
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?(10) (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui (11) Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal (rumah) yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar (12).”
2. Memperbanyak amal shaleh; melalui pedengaran, penglihatan, hati, lisan, ilmu dan harta yang kita miliki. Allah menjelasakan dalam surat Saba’ (34) ayat 37 :
وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفَى إِلَّا مَنْ آَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ لَهُمْ جَزَاءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آَمِنُونَ
“Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (shaleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di kamar-kamar (rumah-rumah) yang tinggi (dalam syurga).”
3. Mengimani Allah dan membenarkan risalah para Rasul Allah serta melaksanakan konsekuensi iman pada Allah dan para Rasululllah, khususnya Rasul Muhammad Saw. sebagaiman sabda Rasul Saw :
إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ يَتَرَاءَوْنَ أَهْلَ الْغُرَفِ مِنْ فَوْقِهِمْ كَمَا يَتَرَاءَوْنَ الْكَوْكَبَ الدُّرِّيَّ الْغَابِرَ فِي الأُفُقِ مِنْ الْمَشْرِقِ أَوْ الْمَغْرِبِ لِتَفَاضُلِ مَا بَيْنَهُمْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ تِلْكَ مَنَازِلُ الأَنْبِيَاءِ لا يَبْلُغُهَا غَيْرُهُمْ قَالَ بَلَى وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ رِجَالٌ آمَنُوا بِاللَّهِ وَصَدَّقُوا الْمُرْسَلِينَ
“ Sesungguhnya para penghuni syurga itu saling melihat penghuni kamar-kamar dari atas mereka (di syurga) sebagaimana mereka melihat bintang-bintang bercahaya yang lewat di ufuk timur atau barat disebabkan kelebihan di antara mereka. Mereka (Sahabat) berkata : Wahai Rasulullah, yang demiian itu rumah-rumah para Nabi yang tidak mungkin dicapai oleh selain mereka? Nabi berkata : Bukan, demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya… mereka adalah orang-orang yang beriman pada Allah dan membenarkan ajaran para Rasul Allah…” (HR. Bukhari dan Muslim).
4. Taqwa pada Allah. Artinya, ketaatan mutlak pada Allah dalam hal perintah dan larangan-Nya. Semuanya dilaksanakan dengan ikhlas dan penuh cinta dan mengharap ridha-Nya serta takut pada azab-Nya. Balasannya adalah istana yang memiliki kamar yang banyak dan beberapa tingkat. Allah menjelaskan dalam surat Azzumar (39) ayat 20 :
لَكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ غُرَفٌ مِنْ فَوْقِهَا غُرَفٌ مَبْنِيَّةٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ وَعْدَ اللَّهِ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ الْمِيعَادَ
“Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya mereka mendapat tempat-tempat yang tinggi, di atasnya dibangun pula tempat-tempat yang tinggi yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Allah telah berjanji dengan sebenar-benarnya. Allah tidak akan memungkiri janji-Nya.”
5. Bicara yang baik, memberikan makan pada fakir miskin, keluarga dan kedua orang tua, rajin berpuasa dan shalat malam (tahajjud). Rasul Saw. bersabda :
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا فَقَامَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِمَنْ أَطَابَ الْكَلَامَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ
“Sesungguhnya di syurga itu ada kamar-kamar yang dapat dilihat luarnya dari dalamnya, dan dalamnya dari luarnya. Maka seorang Badwi berkata : Untuk siapa itu wahai Rasulullah? Beliau berkata : untuk orang yang baik perkataannya, memberikan makan pada orang lain, terus menerus berpuasa (puasa Daud) dan shalat di malam hari sedangkan manusia sedang tidur nyenyak.” (HR. At-Tirmizi)
6. Mengunjungi orang sakit atau saudara seiman. Rasul Saw. bersabda :
مَنْ عَادَ مَرِيضًا أَوْ زَارَ أَخًا لَهُ فِي اللَّهِ نَادَاهُ مُنَادٍ أَنْ طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ وَتَبَوَّأْتَ مِنْ الْجَنَّةِ مَنْزِلا
“Siapa yang mengunjungi orang sakit atau saudaranya seiman (seagama Islam), maka ia diseru oleh orang (malaikat): Engkau adalah orang baik dan baik pula perjalananmu dan Allah telah menyiapkan bagimu rumah di syurga.” (HR. At-Tirmizi)
7. Membangun masjid ikhlas karena Allah. Rasul Saw. bersabda :
مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الْجَنَّةِ
“ Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di syurga.” (HR. At-Tirmizi)
8. Sabar saat menghadapi musibah kematian anak yang masih kecil dan belum dewasa. Rasul Saw. bersabda :
إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ قَالَ اللَّهُ لِمَلَائِكَتِهِ قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيَقُولُ قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيَقُولُ مَاذَا قَالَ عَبْدِي فَيَقُولُونَ حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ فَيَقُولُ اللَّهُ ابْنُوا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَسَمُّوهُ بَيْتَ الْحَمْدِ
“Apabila wafat anak seorang hamba (manusia), maka Allah berkata pada malaikat-Nya : Kalian telah mengambil nyawa hamba-Ku? Mereka menjawab : benar. Allah berkata lagi : Kalian telah mengambil buah hatinya? Mereka menjawab : Benar. Lalu Allah berkata : Apa yang dikatakan hamba-Ku itu? Mereka menjawab : dia memuji-Mu dan mengucapkan : Innalillahi wa inna ialihi raji’un. Maka Allah berfirman : bangunakn bagi hamba-ku itu rumah di syurga dan beri nama rumah itu dengan “Baitul Hamdi” (Rumah Pujian).” (HR. At-Tirmizi)
Demikianlah diskripsi singkat ini, semoga Allah menolong kita untuk melakukan berbagai amal ibadah di atas dan juga amal ibadah lainnya, agar rumah dan istana impian kita di syurga dapat terwujud.Wallahu a’lam bisshawab.

Baca Juga:   ICMI Bertekad Memperkuat Ekonomi Syariah di Indonesia

Oleh : Sukahar Ahmad Syafi’i, S.Th.I



1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.