Krisis Malu

MALU, adalah sifat atau perasaan yang menimbulkan keengganan dan melakukan sesuatu yang rendah atau tidak baik. Orang yang memiliki rasa malu, apabila melakukan sesuatu yang tidak patut, rendah atau tidak baik dia akan terlihat gugup atau mukanya merah. Sebaliknya orang yang tidak punya rasa malu, akan melakukannya dengan tenang tanpa ada rasa gugup sekalipun. Bagi seorang laki-laki malu adalah sifat terpuji. Sementara bagi seorang perempuan malu adalah fitrah dan watak aslinya. Oleh karena itu, tidak masuk akal jika sampai ada seorang yang tidak memiliki rasa malu kecuali jika ia ingin menjadi sumber kebencian dan kejengkelan orang lain.

Kemudian masihkah ada rasa malu di era postmodern ini?, masihkah rasa malu itu melekat di dalam diri masing-masing manusia masa kini ? sedangkan kemaksiatan mulai merajalela, dari semula yang sembunyi-sembunyi sekarang ini sudah mulai terang-terangan ditampakkan. Bahkan para remaja yang hakikatnya adalah penerus perjuangan bangsa juga sudah mulai terkikis rasa malunya. Apakah rasa malu itu sudah hilang ? sehingga manusia bisa berbuat sekehendaknya sendiri ? Padahal Rasulullah SAW telah bersabda :

“Sesungguhnya diantara yang didapat manusia dari kalimat kenabian yang pertama ialah : Jika engkau tidak lagi mempunyai sifat malu, maka berbuatlah sekehendakmu.” (HR. Bukhari )”.

Sabda Rasulullah tentang, “ kalimat kenabian yang pertama ” ini maksudnya ialah bahwa rasa malu itu selalu terpuji dan dipandang baik, selalu diperintahkan oleh setiap Nabi dan tidak pernah dihapuskan dari syari’at para Nabi sejak dahulu. Sedangkan sabda beliau “ berbuatlah sekehendakmu ” mengandung dua pengertian, yaitu : pertama, berarti ancaman dan peringatan keras, bukan merupakan perintah, sebagaimana sabda beliau : “ lakukanlah sesuka kamu ” yang juga berarti ancaman, sebab mereka telah diajarkan apa yang harus dijalankan dan apa yang harus ditinggalkan. Kemudian pengertian kedua ialah hendaklah melakukan apa saja yang kamu tidak malu melakukannya. Maksudnya adalah jika kamu tidak malu maka lakukan saja dan jika kamu merasa malu maka jauhilah.

Malu adalah salah satu refleksi dari Iman. bahkan malu dan Iman akan selalu hadir secara bersama-sama. Seperti halnya sabda Nabi bahwa malu adalah salah satu cabang dari Iman. Yang artinya bahwa malu itu adalah sebagian dari Iman. Nah, maksud dari malu disini adalah malu yang dapat menjauhkan dirinya dari perbuatan keji dan mendorongnya untuk berbuat kebajikan. Iman adalah pondasi yang telah mengeras dalam jiwa umat manusia, memenuhi hati dan juga menguasai rasa. Di atas pondasi Iman itu berdirilah suatu bangunan kokoh yang bernama akhlaq. Dan rasa malu adalah sebagai penghias dan ikon bangunan tersebut yang selalu disandingkan dengan iman dan akhlaq. Jika tidak ada rasa malu, tidak ada pula iman dan akhlaq. Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda, Malu dan iman selalu bersanding. Jika yang satu hilang, maka hilanglah yang lain.

Kemudian, mengapa malu disebut sebagian dari Iman ? Malu disebut sebagian dari Iman karena keduanya sama-sama menganjurkan kebaikan dan menghindarkan keburukan. Iman menganjurkan berbuat taat dan meninggalkan maksiat. Sementara malu mencegah kealpaan kita untuk bersyukur kepada Pemberi Ni’mat dan mencegah kelalaian menunaikan hak orang yang memiliki hak. Disamping itu, malu juga mencegah berbuat atau berkata kotor demi menghindari celaan dan kecaman. Dari sinilah kemudian malu dinobatkan menjadi sesuatu yang baik. Dan pada awalnya sesuatu yang baik itu hanyalah sesuatu yang akan membuahkan kebaikan pula.

Baca Juga:   Kajian Jumat Oleh Ustad Syarif

Rasa malu ialah rasa yang berfungsi untuk mengontrol dan mengendalikan seseorang dari segala sikap dan perbuatan yang dilarang oleh agama. Tanpa kontrol rasa malu seseorang akan bebas melakukan apa saja yang diinginkan oleh hawa nafsunya. Seperti hadits yang telah disebutkan di atas Rasulullah mengingatkan bahwa apabila seseorang sudah tidak mempunyai rasa malu maka dia aka kehilangan kontrol terhadap segala tingkah lakunya. Dia akan menjadi manusia yang lepas kendali yang merasa bebas melakukan apa saja, tanpa mempertimbangkan halal haram, baik buruk dan manfaat mudharat dari perbuatan tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari di tengah-tengah masyarakat misalnya, kita dapat merasakan kebenaran sabda Rasulullah SAW di atas. Betapa kita merasa heran apabila melihat seorang muslim melanggar nilai dan ajaran agamanya tanpa rasa rikuh sedikitpun. Seorang pedagang tidak malu-malu menawarkan kepada pembeli untuk membuatkan kwitansi fiktif (bukan yang sebenarnya/ palsu), seorang pegawai tidak malu-malu meminta uang pelicin kepada anggota masyarakat yang sedang membutuhkan jasanya, seorang mahasiswa tidak malu-malunya menyontek pada saat ujian tengah berlangsung, seorang pemuda tidak malu-malunya berdua-duaan dengan seorang gadis yang bukan mahramnya dll.

Bahkan sesuatu yang rasanya mustahil terjadi menurut ukuran minimal iman pun sudah terjadi di tengah-tengah masyarakat. Lihatlah misalnya berapa banyak kasus pagar makan tanaman; seorang ayah tidak malu-malunya menzinai anaknya sendiri. Bahkan seorang suami itu tidak malu-malunya melakukan perbuatan zina di depan istri mereka dan begitu pula sebaliknya. Benar, bila budaya malu tidak lagi hidup ditengah-tengah masyarakat maka manusia akan kehilangan kemanusiaannya, berubah menjadi binatang bahkan lebih jelek dari pada binatang. Dan hilangnya sifat malu ini adalah merupakan langkah awal dari kehancuran dan kebinasaan. Malu, amanah, rahmah dan Islam adalam empat hal yang saling berkaitan satu sama lain. Konsekuensi logis dari hilangnya malu ini adalah hilangnya amanah. Bila amanah hilang, maka akan hilanglah rahmah, dan bila rahmah hilang, hilanglah Islam. Sedangkan jika rasa malu telah hilang dari diri seorang manusia maka seolah-olah ia adalah bangunan yang ditarik batu pondasinya dari bawah hingga robohlah bangunan tersebut dan batu-batunya pun berserakan.

Kemudian, adakah orang yang tidak punya rasa malu mendapatkan peluang hidup wajar? Kita yakin tidak, kecuali di tengah-tengah masyarakat yang juga sudah kehilangan rasa malu. Bila seseorang tidak punya rasa malu maka bagaimana mungkin bisa dipercaya untuk mengurusi materi, karena dia pasti tidak akan malu-malu untuk menyelewengkannya. Bagaimana mungkin membuat janji dengannya, sebab dia tidak akan malu-malu untuk melanggarnya. Bagaimana mungkin juga mereka diserahi suatu tanggung jawab karena ia tidak akan malu-malu untuk mengabaikannya. Pada akhirnya orang yang tidak punya rasa malu akan mengalami kehancuran dan kebinasaan. Dan jika sifat malu itu juga hilang dari masyarakat, suatu masyarakat itupun akan mengalami kehancuran dan kebinasaan. Demikianlah, mudah-mudahan kita dapat selalu meningkatkan rasa malu kita dalam seluruh aspek kehidupan. Aamiin..

Wallahua’alam bish shawab…

 

  • Refrensi :
  • Kuliah akhlaq ( Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.A. )
  • Kecantikan Surgawi ( Dr. Akram Ridha )

 

 

 

 



Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.