Keistimewaan Shalat di dalam Islam

Sholat, setiap umat muslim pasti tidak pernah tidak tau apa itu sholat. Setiap hari paling minim 5 waktu umat muslim wajib menunaikan sholat. Sholat sendiri memiliki banyak makna, salah satunya adalah doa. Sedangkan sholat secara makna istilah atau syar’i adalah suatu bentuk ibadah yang dibuka dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Maka artinya shalat mempunyai 2 aspek sekaligus yakni aspek yang bersifat vertikal (ta’abbudi atau penghambaan) kalo dalam istilah ilmiah disebut makna transendental (spiritualitas). Dan shalat tidak akan maksimal jika hanya meraih aspek vertikalnya saja, ia juga harus meraih aspek yang bersifat horizontal (mencegah kemaksiatan dan kemungkaran).

Tujuan shalat bukanlah mencegah kemaksiatan dan kemungkaran, karena mencegah kemaksiatan dan kemungkaran merupakan dampak positif yang ditimbulkan dari shalat. Karena apabila ada orang yang sudah mampu mencegah kemaksiatan dan kemungkaran dia pasti tidak akan melaksanakan shalat. Padahal salah satu bentuk kemungkaran adalah meninggalkan shalat itu sendiri.

Shalat adalah suatu bentuk ibadah yang bersifat qauli dan sekaligus perbuatan yang bersifat khusus dan juga niat yang terhimpun menjadi satu. Contoh dari perbuatan qauli itu adalah dzikir, sedangkan contoh dari perbuatan khusus itu adalah yang berkaitan dengan badani atau jasmani. Kekhususan dari praktik shalat adalah ta’abbudi dengan tanpa mempertanyakan mengapa shalat seperti itu.

Dan dewasa ini banyak sekali orang yang bertanya-tanya mengapa orang yang shalat itu kemungkarannya tetap jalan terus ? apakah shalatnya yang salah ? atau orangnya yang salah ?

Perintah shalat adalah menggunakan lafal اقيموا (aqiimuu) bukan افعلوا (if’aluu). Dalam hal ini berarti kita sebagai umat muslim harus menegakkan shalat dengan nilai-nilainya. Dan disini bukanlah shalatnya yang keliru, tapi orangnya yang keliru. Dalam tafsir al-maraghi dikatakan bahwa :

“ jika shalat seseorang tidak mampu mencegah dirinya dari perbuatan keji dan mungkar, maka shalatnya itu hanya sekedar komat-kamit atau gerak-gerik saja dan kosong dari esensi ibadah”

Jadi, karena shalatnya itu hanya mengerjakan saja, tetapi kosong dari ruh ibadah. Yang dimaksud dengan ruh disini adalah keyakinan, yang berarti bahwa ibadah shalat adalah bentuk komunikasi yang paling intens atau dekat antara hamba dengan Tuhan.

Dan tahukah kita ?? bahwa sholat mempunyai sebuah kedudukan atau keistimewaan di dalam Islam yang tidak dimilki oleh ibadah-ibadah yang lain. Di antara keistimewaan itu adalah

  1. Sholat merupakan tiang agama.

Islam merupakan agama yang kompleks. Semua perihal kehidupan telah diatur oleh Islam. Termasuk makan, minum, tidur dll semua ada aturan dan porsinya. Karena apabila berlebih-lebihan akan menimbulkan sebuah kemadharatan juga. Mengapa shalat merupakan tiang agama ? karena Islam tidak dapat berdiri kokoh tanpa shalat. Sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w :

“sumber berbagai urusan-urusan adalah islam, dan tiang-tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah berjihad di jalan Allah”

Dari hadits ini dapat kita ketahui bahwa, jika shalat merupakan tiangnya agama, maka pondasinya adalah aqidah dan iman. Misalkan kita akan membangun sebuah rumah, akan tetapi kita hanya punya pondasinya, maka tanpa adanya tiang sebuah rumah tidak akan pernah berdiri dengan kuat. Jadi intinya sebuah pondasi itu tidak akan pernah tegak menjadi sebuah rumah kecuali dengan adanya tiang. Dan jihad disini mempunyai dua makna. Makna yang pertama adalah makna umum yang berarti segala perbuatan dengan niat karena Allah. Sedangkan makna yang kedua adalah makna khusus yang berarti peperangan.

  1. Shalat adalah ibadah pertama yang diwajibkan oleh Allah SWT.

Shalat adalah ibadah pertama yang diwajibkan oleh Allah SWT yang perintahnya disampaikan secara langsung tanpa perantara, yaitu melalui dialog Allah dengan Rasul-Nya pada malam Isra’ Mi’raj.

Baca Juga:   Haedar Nashir: Kekuatan Ekonomi Sebagai Pilar Strategis Indonesia

Anas ra. berkata, “Shalat diwajibkan kepada Nabi s.a.w. pada malam Isra’ Mi’raj sebanyak lima puluh kali, kemudian dikurangi hingga menjadi lima kali. Lalu, Allah memanggil Muhammad, ‘Hai, Muhammad. Ketentuan ini sudah tidak dapat diubah lagi. Dengan shalat lima waktu ini, engkau tetap mendapat ganjaran sebanyak lima puluh kali.”’ (HR. Ahmad, Nasa’i, dan Tirmidzi yang menegaskan kesahihan hadits ini)

Dalam logika isro’iliyat buroq yang ditunggangi oleh Nabi dilogikakan sebagai hewan yang menyerupai dengan kuda dengan wajah cantik. Akan tetapi ini hanyalah logika isro’iliyat. Tentang kebenaran bagaimanakah gambaran buroq itu hanya Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui. Dan sebelum shalat diwajibkan Nabi melakukan ritual seperti shalat yaitu tahannus (menyendiri), tapi dalam hadits Abu Hurairah tahannus diartikan sebagai ibadah dalam beberapa hari di gua hira.

  1. Shalat merupakan amal yang pertama kali akan dihisab.

Shalat merupakan juga merupakan amal yang pertama kali dihisab. Abdullah bin Qurth ra. menceritakan bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda :

“Yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya. Dan jika shalatnya buruk, maka buruklah seluruh amalnya.”(HR. Thabrani)

Shalat merupakan barometer ibadah/ barometer amal/ cermin amal. Jadi karena shalat itu barometer, maka amal baik itu adalah dampak dari shalat dan juga shalat merupakan barometer amal. Apabila baik shalatnya maka baik pula seluruh amalnya atau perbuatannya.

  1. Shalat merupakan pesan terakhir Rasulullah yang disampaikan di akhir hayatnya.

Saat akan menghembuskan nafas terakhirnya Rasulullah s.a.w. bersabda :

“Perhatikanlah shalat kalian. Perhatikanlah shalat kalian. Juga perhatikanlah hamba sahaya kalian.”

Sesuatu dianggap spesial adalah pada awal dan akhirnya. Begitupun dengan shalat, shalat adalah ibadah pertama yang diwajibkan oleh Allah dan juga menjadi wasiat terakhir dari Nabi Muhammad s.a.w.. Dan kejadian yang mengesankan adalah yang pertama karena itu jadi barometer ingatan. Sedangkan sesuatu yang terakhir yaitu ketika Nabi wafat dan memberi wasiat tertentu berarti ada sesuatu yang menjadi maha penting, baik bagi personal maupun jama’i. Oleh karena sangat pentingnya maka shalat menjadi wasiat terakhir Nabi Muhammad s.a.w.. Nabi mengucapkan wasiat shalat dengan sisa-sisa tenaganya. Penyebutan wasiat shalat oleh Nabi juga tanpa awal dan akhir kata. Pengawalnya hanya shalat, shalat berarti itu ada arti yang luar biasa dibaliknya, berarti harus menegakkan shalat, baik tata cara, tuma’ninah, dan waktu shalat harus secara sempurna.

  1. Shalat adalah sesuatu yang terakhir yang kali tercabut dari keberagamaan seseorang.

Agama disini bukanlah sesuatu yang langsung terkait dengan Islam, tapi keberagamaan shalat adalah sesuatu yang terakhir kali tercabut dari keberagamaan seseorang. Dan kalau shalat hilang dari keberagamaan seseorang, maka keberagamaan seseorang itu hilang secara keseluruhan. Rasulullah s.a.w. bersabda :

“Sesungguhnya rangkaian ajaran Islam akan terurai satu demi satu. Setiap kali satu ajaran lepas, orang-orang berpegangan pada ajaran berikutnya. Yang pertama kali lepas adalah aturan hukum dan yang terakhir lepas adalah sahalat.”(HR. Ibbnu Hibban dari Abu Umamah)

Dan demikianlah keistimewaan shalat di dalam Islam. Semakin orang tidak shalat maka ia akan melakukan perbuatan-perbuatan yang semakin tercela. Dan setiap kali satu kehormatan itu tercabut, maka seseorang akan lebih berani untuk meninggalkan yang lain. Dan pembeda di antara orang kafir dan orang islam adalah sholat. Dan marilah kita menegakkan shalat nilai-nilainya. Bukan hanya sekedar shalat yang jungkir balik tapi shalat yang penuh kekhusyu’an menghadap Allah SWT. Wallahu a’alam bish shawab…..

 

 

 

 

 

 



Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.