Hijrah, Sebuah Esensi Gerakan Dakwah

Hijrah, Sebuah Esensi Gerakan Dakwah

Oleh : Sukahar Ahmad Syafi’I, S.Th.I

Hijrah, dalam kamus Al-Munawir Arab Indonesia, berarti pindah ke negeri lain, hijrah dan migrasi. Kata ini berasal dari kata dasar hajara-yahjuru yang berarti memutuskan dan meninggalkan.

Sementara Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam bentuk nominal hijrah diartikan dengan perpindahan Nabi Muhammad SAW bersama sebagian pengikutnya dari Makkah ke Madinah untuk menyelamatkan diri dari tekanan kaum kafir Quraisy Makkah. Dan dalam bentuk verbal, berpindah atau menyingkir untuk sementara waktu dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik dengan alasan tertentu (keselamatan, kebaikan, dan sebagainya).

Dari pengertian hijrah di atas, maka ada dua makna yang dapat diambil, yaitu hijrah hissiyah/makani (perpindahan tempat), yakni dalam konteks fisik dan hijrah ma’nawi, yakni pada konteks non fisik.

Pertama, hijrah hissiyyah/makani (hijrah fisik dengan berpindah tempat), dari Daarul Khauf (negeri yang tidak aman dan tidak kondusif) menuju Daarul Amn (negeri yang relatif aman dan kondusif), seperti hijrah dari Kota Makkah ke Habasyah (Ethiopia) dan dari Makkah ke Madinah.

Kedua, hijrah ma’nawiyyah (hijrah nilai/non fisik). Yakni, dengan meninggalkan nilai-nilai atau kondisi-kondisi jahiliyah untuk berubah menuju nilai-nilai atau kondisi-kondisi Islami, seperti dalam aspek akidah, ibadah, akhlak, pemikiran dan pola pikir, muamalah, pergaulan, cara hidup, kehidupan berkeluarga, etos kerja, manajemen diri, manajemen waktu, manajemen dakwah, perjuangan, pengorbanan, serta aspek-aspek diri dan kehidupan lainnya sesuai dengan tuntutan keimanan dan konsekuensi keislaman.

Jika hijrah hissiyyah bersifat kondisional dan situasional serta harus sesuai dengan syarat-syarat tertentu, hijrah ma’nawiyyah bersifat mutlak dan permanen, serta sekaligus merupakan syarat dan landasan bagi pelaksanaan hijrah hissiyyah.
Hijrah ma’nawiyyah inilah yang sebenarnya merupakan hakikat dan esensi dari perintah hijrah itu. Kuncinya ada pada kata perubahan! Ya, ketika seseorang telah berikrar syahadat dan menyatakan diri telah beriman dan berislam, ia harus langsung ber-hijrah ma’nawiyyah ke arah perubahan total–tentu tetap mengikuti prinsip tadarruj (bertahap)–sesuai shibghah rabbaniyah, sebagaimana Firman Allah SWT : Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah (Al-Baqarah [2]: 138).

Baca Juga:   Bersama PBMTI Jateng, KSPPS Fastabiq Salurkan Bantuan Korban Banjir di Brebes

Secara fundamental, esensi hijrah, baik hissiyah, lebih-lebih maknawiyah adalah membentuk pribadi muslim yang berkemajuan, maju zamannya, maju pola pikirnya, maju tingkat pemahaman agamanya, serta maju etika sosialnya. Kenapa demikian, coba kita cermati bersama suasana keberislaman di negeri kita ini, apakah semakin baik, ataukah semakin tidak karuan. Kalau jawabannya semakin tidak karuan, berarti umat islam di negeri ini belum bisa move on/hijrah menuju sesuatu yang lebih baik.

Hijrah, edentik dengan berubah/perubahan. Seseorang yang dikatakan telah berhijrah, berarti dia telah berubah. contoh; hijrahnya seorang muslim abangan, adalah rajin shalat di masjid, hijrahnya seorang muallaf adalah semakin sering pergi ke masjid, hijrahnya penjual yang suka mengurangi timbangan adalah berbuat adil dalam menimbang. Itu hanya sekedar contoh, bisa benar bisa tidak tinggal bagaimana diri kita memahami makna hijrah. Terlepas dari visualisasi di atas, kita sepakati terlebih dahulu bahwa hijrah adalah berubah dan perubahan tersebut bisa dimulai dari diri kita sendiri, karena diri kitalah yang mengerti siapa kita dimana kita dan mau bagaimana kehidupan kita. Mari kita renungkan sejenak firman Allah SWT dalam surat Ar-Ra’du ayat 11 ; “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Secara eksplisit ayat ini menunjukkan action dari hijrah, bahwa hijrah adalah berubah dan perubahan berasal dari diri kita sendiri, bukan yang lainnya.

Wallahu a’lam bisshawab