waktuBekerja dalam pandangan Islam begitu tinggi derajat-nya. Hingga Allah SWT dalam Al Qur`an menggandengkannya dengan jihad fii sabilillah.

… وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِن فَضْلِ اللَّهِ ۙ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ …

“orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah” (QS. Al Muzzammil [73]: 20)

Setiap wanita pasti memimpikan sukses di karir maupun rumah tangga. Bagi wanita selain dapat meningkatkan taraf hidup segi ekonomi juga dapat meningkatkan status pada lingkungan sekitar, apalagi kita yang kebetulan bekerja di lembaga keuangan syariah. Tentu ada nilai plus nya di banding dengan perusahan lainnya, di sini kita bisa berdakwah dari segi ekonomi syariah.

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qoshosh: 77)

Ada beberapa orang yang berpendapat bagi kebanyakan wanita yang sukses dengan pekerjaan maka keluarganya menjadi korban, menurut saya semua itu tergantung pada pribadi masing masing yang menjalaninya.

Sebenarnya saya merasa belum pantas untuk menyampaikan beberapa hal yang menyangkut berbagai peran wanita karir, tapi baiklah semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat:

1. Selalu meluangkan waktu untuk berkomunikasi atau ngobrol dengan cara apapun baik kepada pasangan maupun kepada anak-anak lewat telepon atau sms, misal sekedar menanyakan sudah makan atau belum, sudah datang atau belum dan sebagainya, ini menandakan bahwa kita memperhatikan mereka.

Islam mengajarkan agar mempergunakan perkataan yang mulia dalam berkomunikasi kepada siapapun seperti terdapat dalam ayat Al-Qur’an yang berbunyi :
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”.(Al-Israa : 23)

Baca Juga:   Muhammadiyah Siapkan 1 Juta Wirausaha Baru

2. Menentukan prioritas harus bijak dalam melaksanakan pekerjaan mana yang paling penting untuk di dahulukan, jangan membuang waktu, segera selesaikan dan kemudian maksimalkan waktu berikutnya bersama dengan keluarga.
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ
“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain” (QS. Al-Insyiroh: 7)

3. Jangan melupakan hal hal yang kecil tapi mempunyai makna yang besar, seperti dekapan dan ciuman hangat untuk si kecil. Sepulang dari kantor pertama kali yang di cari adalah anak. Berikan dekapan, senyum, beri ciuman dan tanyakan hal hal di lakukan anak seharian tadi.

4. Membuat waktu kebersamaan dengan keluarga agar terjalin ikatan yang kuat antara suami atau istri dan anak. Misalnya mendatangi kajian bersama, berbelanja bersama, berlibur bersama dan sebagainya.

5. Jangan menunda-nunda persoalan yang terjadi di dalam rumah tangga atau di kantor yang bisa mempengaruhi konsentrasi dalam bekerja, hari itu juga harus di cari solusi yang terbaik.

Dalam berbagai kesempatan, ketika bekerja, berkeluarga dan berdakwah, jagalah agar diri kita, aktivitas kita dan keluarga kita sampai turunan kita agar senantiasa taat dan rajin beribadah kepada Allah Swt. Karena kita adalah keluarga utama, yang menjadi cermin tauladan bagi keluarga-keluarga lainnya.

Untuk itu hanya kepada Alloh SWT kita memanjatkan do’a, sebagaimana doa yang dibaca oleh Nabi Ibrahim a.s., ketika ia memohon agar kota Mekkah dijadikan kota tentram, aman dan anak turunannaya diselamatkan dari menyembah berhala.

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ.رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”. (Q.S. Ibrahim 40-41)
Demikianlah, mari ber-Fastabiqul Khoirot untuk mencapai keberimbangan dalam bekerja, berkeluarga dan berdakwah. Aamiin Ya Robbal’alamin

Oleh : Sri Sutiyani, SE
(Direktur Operasional BMT Fastabiq)



Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.